Kamis, 13 November 2014



Rangkuman Ilmu Kalam
1. Pendahuluan
 ~Pengertian Ilmu Kalam.
            Ilmu kalam adalah ilmu yang mempelajari tentang sabda/kalam Allah.
 ~Nama lain: Ilmu Ushuluddin/Ilmu Akoid (ikatan), Ilmu Uluhiyah (ketuhanan)/Ilmu tauhid dan Teologi (Ilmu ketuhannan) Al ma'mun 700M yang lalu.
 ~Perbedaan antaranya: Ilmu Kalam ialah Ilmu yang mempelajari tentang sabda/Kalam Allah, sedangkan Ilmu Fikih ialah ilmu yang mempelajari tentang hukum hukum untuk manusia yang di ambil dari Kalam Allah itu sendiri, sedangkan Ilmu filsafat ialah Ilmu yang mempelajari tentang segalanya, mencakup tentang ketuhanan, edeologi serta pemikiran pemikiran manusia.

2. Tauhid
 ~Makna dan pengertian Tauhid.
            Secara bahasa tauhid adalah mashdar (kata dasar) dari وحّد يوحّد توحيد yang maknanya sesuatu itu satu (ESA).
            Pengertiannya adalah, menjalankan ibadah dan hidup di dunia ini semata-mata hanya untuk Allah
 ~Makna kalimat tauhid: la ilaha illa Allah, dan implikasinya dalam kehidupan. , menjalankan ibadah dan hidup di dunia ini semata-mata hanya untuk Allah, tidak menduakannya tidak pula menyekutukannya.
 ~Akidah-akidah pokok: mengimani akan rukun Islam yang 6

3. Islam
 ~Makna dan pengertian Islam.
            kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya.[1]
            ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”
 ~Makna dan pengertian Fitrah dan hubungannya dengan Islam .
            Kata fitrah berasal dari kata (fi’il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian.
            Dari berbagai pendapat para ulama bisa di simpulkan bahwa fitrah adalah suatu kemampuan manusia yang di berikan oleh Allah Swt  sejak manusia di lahirkan ke dunia dan itu adalah anugrah
            Dan hubungan Fitrah dengan Islam, Iman dan Ikhsan bahwa fitrah  ini muncul dari dorongan Iman, dan Iman berkat Islam, dan Islam yang di tempuh dengan terus menerus  dengan istiqomah maka muculah fitrah dalam diri manusia itu sendiri.
 ~Hubungan antara Islam, Iman dan Ikhsan.
            Islam, Iman & Ihsan adalah satu kesatuan yg tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara Ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah SWT.

4. Iman
 ~Pengertian-pengertian dasar tentang: Iman, Kufur, Nifaq, Fasik, Syirik, Khurafat.
            -Iman adalah percaya kepada rukun Iman yang 6, adapun sifatnya ialah keimanan dan oranganya adalah beriman.
            -Kufur adalah bentuk dari ketidak bersyukurnya seseorang atas apa yang telah Allah berikan kepadanya, adapun orangnya ialah Kafir.
            -Nifaq adalah bentuk dari sifat manusia yaitu berdusta atas apa-apa yang telah ia lakukan atau ia ketakan, adapun orangnya ialah Munafiq
            -Fasik adalah bentuk dari penyimpangan dari ajaran Allah SWT.
            -Syirik adalah bentuk dari sifat manusia yaitu menyekutukan Allah,adapun orangnya ialah Musyrik.
            -Khurafat adalah bentuk penyimpangan dari pada ajaran Allah, seperti halnya mempercayai takhayul, benda-benda mistis serta kejadian-kejadian yang dianggap diluar dari ajaran Islam.
 ~Hubungan antara Iman dengan Ibadah ritual dan Amal dari berbagai aspek kehidupan.
            Seperti yang sudah kita ketahui, Iman adalah percaya dan keimanan adalah sebuah kepercayaan seseorang terhadap sesuatu, adapun orangnya ialah beriman. Dalam konteks ini apabila seseorang mempercayai ataupun menyakini sesuatu selain Allah, seperti halnya mitos, takhayul, serta Ibadah-ibadah atau Adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maka kedudukan orang tersebut ialah Khurafat, ataupun Fasik dan apabila kepercayaan tersebut sudah dijadikan keimanan, maka orang tersebut sudah melakukan perbuatan syirik, dan kedudukan orang tersebut ialah musyrik.

5. Khawarij dan Murji’ah
 ~Nama Khawarij berasal dari kata Kharaja yang berarti keluar. Nama tersebut diberikan kepada mereka karena mereka meyatakan diri keluar dari barisan Ali Bin Abi Thalib dalam persengketaannya dengan Muawiyyah.
            -Khawarij ini adalah suatu kelompok/aliran pengikut Ali Bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (Tahkim), dalam perang siffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah. Kelompok Khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada dipihak yang benar karena Ali merupakah khalifah sah yang telah dibai’at mayoritas umat Islam, sementara Muawiyah berada di pihak yang salah karena membentuk khalifah yang tidak sah. Lagi pula berdasarkan estimasi Khawarij, pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada peperangan itu, tetapi karena Ali menerima tipu daya licik ajakan damai Muawiyah, kemenangan yang hampir diraih itu menjadi raib.
            -Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia islam. aliran ini mulai timbul pada abad ke-1 H (abad ke 8 M) pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Tholib, kholifah terakhir dari Al-khulafa Al-Rasyidin.
            Pada masa dinasti Umayah, kaum Khawarij sering melakukan peberontakan. Selanjutnya, golongan-golongan Khawarij ekstrem dan radikal telah hilang dalam sejarah. namun, ajaran-ajaran ekstrem mereka masih mempunyai pengaruh walaupun tidak banyak dalam masyarakat islam sekarang.
 ~Makna-makna dari ajaran Khawarij.
a)      Sekte Al-Muhakimah
  • Ali, Muawiyyah,  Amru Ibn Al-Ash dan Abu Musa Al-Asy’ary serta orang-orang yang menyetujui Artbitrase telah berbuat salah dan perbutan mereka telah membuat mereka menjadi kafir.
b)      Sekte Al-Azariqah
  • Oranng yang melakukan dosa besar bukan lagi disebut kafir tapi disebut orang musyrik.
c)      Sekte An-Najdat
  • Pembuat dosa besar yang tidak spaham dengan An-Najdat akan mendapat siksaan kekal di dalam neraka.
d)     Sekte Al-Ajaridah
  • Berhijrah bukanlah kewajiban bagi orang muslim tapi melainkan hanya  kebajikan saja.
e)      Sekte Al-Sufriyah
            Golongan ini pada umumnya mempunyai paham yang ekstreem. Diantara doktrin-doktrinnya yang lebih moderat yaitu:
  • Pengikut Al-Sufriyah yang tidak berhijrah tidak dijdikan kafir.
f)       Sekte Al-Ibadiyah
  • Orang islam yang tidak sepaham dengan mereka adalah bukan mukmin dan bukan musyrik tetapi kafir.
~Pokok-pokok ajaran Khawarij.
            Keluar meninggalkan barisan Ali Bin Abi Thalib karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (Tahkim), dalam perang siffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khilafah, serta orang-orang yang menyetujui Artbitrase telah berbuat salah dan perbutan mereka telah membuat mereka menjadi kafir.



 ~Sejarah lahir dan berkembangnya aliran Murji’ah.
            -Aliran Murji’ah muncul sebagai reaksi atas sikap yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal yang dilakukan oleh aliran Khawarij.
           
            Setelah wafatnya khalifah Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah mendirikan dinasti bani Umayyah pada tahun 661 M. Kaum Khawarij dan Syi’ah yang saling bermusuhan mereka sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah itu. Syi’ah menganggap bahwa Muawiyah telah merampas kekuasan dari tangan Ali dan keturunannya. Sementara itu, Khawarij tidak mendukung Muawiayah karena ia dinilai telah menyimpang dari ajaran islam.
           
            Dalam suasana pertentangan ini, timbul satu golongan baru yaitu Murji’ah yang ingin bersikap netral. Bagi mereka, sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat di percayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karna itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah, dan memandang lebih baik menunda penyelesaian masalah ini ke hari perhitungan di hadapan tuhan.
           
            Aliran Murji’ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan dinasti bani Umayyah. Aliran ini tidak memberontak terhadap pemerintah, karna tidak memusuhui pemerintah yang sah. Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun aliran ini tidak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya diakui oleh aliran kalam berikutnya. Sebagai aliran yang berdiri sendiri, golongan Murji’ah moderat telah hilang dalam sejarah dan ajaran-ajaran mereka mengenai iman, kufur, dan dosa besar masuk ke dalam aliran Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Sementara itu, golongan Murji’ah ekstrim pun sudah hilang dan tidak bisa di temukan lagi sekarang. Namun, ajaran-ajarannya yang ekstrim itu masih terdapat pada sebagian umat islam yang menjalankan ajaran-ajarannya. Kemungkinan mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mengikuti ajaran golongan Murji’ah ekstrim.
 ~Makna-makna dari ajaran Murji’ah
            Nama Murji’ah diambil dari kata Irja atau Arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata Arja’a mangandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kapada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah SWT. Selain itu, Irja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karna itu Murji’ah, artinya orang yang menunda.
            Penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.
 ~Pokok-pokok ajaran aliran Murji’ah
            a)      Golongan Moderat :
Orang yang melalakukan dosa besar tidak menjadi kafir karenanya, dan tidak kekal didalam neraka. Orang tersebut akan dihukum didalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang ia kerjakan. Bahkan apabila tuhan mengampuni dosanya itu ada kemungkinan ia tidak masuk neraka sama sekali. Jadi, Pelaku dosa besar tetap mukmin.
b)      Golongan Ekstrim
  • Al- Jahmiyah: orang islam yang percaya kepada Tuhan dan kemudian ia menyatakan kufur kepada Tuhan secara lisan maka orang tersebut tidak menjadi kafir karenanya, sebab iman itu tempatnya dal hati, bukan di lidah atau ditempat lain dari tubuh manusia.
  • Al-Sahiliah: Iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak mengetahui tuhan.
  • Al-Yunusiyah: yang disebut iman itu hanyalah mengetahui tuhan.
  • Al-Ubaidaiyah: jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan beriman, maka dosa-dosa dari perbuatan-perbuatan jahat mereka tidak akan merugikan mereka.

6. Qadariyah dan Jabariyah.
 ~Pengertiannya.
            -Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata قَدَرَ yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.
~Sejarah lahirnya.
            -Tentang kapan munculnya faham Qadariyah dalam Islam, tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa ahli teologi Islam yang menghubungkan faham qadariyah ini dengan kaum Khawarij. Pemahaman mereka (kaum khawarij) tentang konsep iman, pengakuan hati dan amal dapat menimbulkan kesadaran bahwa manusia mampu sepenuhnya memilih dan menentukan tindakannya sendiri. Menurut Ahmad Amin seperti dikutip Abuddin Nata, berpendapat bahwa faham qadariyah pertama sekali dimunculkan oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy . Sementara itu Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun, memberi pendapat lain bahwa yang pertama sekali memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen. Dari sinilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini . Orang Irak yang dimaksud, sebagaimana dikatakan Muhammad Ibnu Syu’ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai, adalah Susan.

            Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qadariyah muncul, ada banyak kesulitan untuk menentukannya. Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali. Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus, diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah.
            Faham ini mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya reaksi keras ini, pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa Arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, mereka merasa diri mereka lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya. Sehingga ketika faham qadariyah dikembangkan, mereka tidak dapat menerimanya karena dianggap bertentangan dengan Islam. Kedua, tantangan dari pemerintah, karena para pejabat pemerintahan menganut faham jabariyah. Pemerintah menganggap faham qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.



~Ayat-ayat dan Hadits yang berkaitan dengan aliran Qadariyah.
            -Dalam surat al-Kahfi ayat 29, Allah berfirman:
“Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman)      hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.
            -Dalam surat al-Ra’d ayat 11, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

~Pengertian Jabariyah.
            -Secara bahasa jabariyah berasal dari kata جَبَرَ yang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu, Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, namun diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya.

~Sejarah lahirnya ajaran Jabariyah.
            -Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran jabariyah tidak ada penjelasan yang jelas. Abu Zahra menuturkan bahwa faham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan .

            Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.

            Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak bergantung pada alam, sehingga menyebabkan mereka menganut faham fanatisme . Faham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan Murji’ah. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan Bani Umayah.

~Ayat-ayat dan hadits yang berkaitan dengan aliran Jabariyah.
            -Dalam surat Ash-Shaffat ayat 96, Allah berfirman:
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.
            -Dalam surat Al-Anfal ayat 17, Allah berfirman:
“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar”.
   


[1]Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1989, hlm. 56-57.